Jatuh Cinta, Mencintai(dan Dicintai).
Beberapa hal yang ada di dunia ini terkadang lebih baik menjadi misteri.
Terkadang mengetahui keterusterangan menyakitkan.
Tapi, menoleh dari keterusterangan tidaklah indah.
Tidak indah untuk tinggal didalamnya dan larut dalam arus kemunafikan.
Jatuh cinta, katanya.
Membiarkan ada orang lain yang mencampuri hidupmu.
Waktumu
Rupiahmu
Anganmu
Dan ya, perasaanmu.
Yang kadang terkoyak bagai serigala membunuh mangsanya
Tanpa menimbang pedih raga hewan kecil
Tersobek memperlihatkan jantungnya
Perih tergesek tiupan angin
Begitu pula dengan cintaku.
Terpampang dalam wajahnya jelas
Danau yang kian meluap karena begitu perih terasa.
Waduk kecil disamping danau tak mampu menahan
Air mengalir deras tanpa batas, melintasi tanah sampai ke bibir.
Jatuh cinta sebuah fasa.
Berisi bualan dan omong kosong penuh kotoran.
Bak kuda mengekskresikan sisa makanannya,
Begitu masif
Gabuk;besar tapi tak ada isinya.
Walaupun yang tercipta hanya bau belaka.
Serupa
Meluapkan rasa
Sampai dalam
Terlalu dalam
Bercumbu
Bercinta
Walaupun yang tercipta nantinya hanya keegoisan semata
Sejatinya hal itu menyenangkan,
bertemu seseorang yang bisa membuat jatuh cinta.
Waktu terasa begitu cepat saat kau gandeng mesra tangannya
Saat kau merasakan hangat peluknya
Lalu mengantarmu ke depan pagar rumahmu yang tinggi
Bersembunyi dari kedua orangtuamu
Memang tidak serius.
Dikecupnya keningmu
Mata kalian bertemu dan rupanya perlahan mendekatimu
Melayang terbang tinggi bersama
Lalu kau mengenal yang namanya mencintai.
Pintu itu terbuka dan jatuh cinta membawamu ke dalamnya
Kau jadi mencintai
Mencintai membuatmu lebih banyak lagi berkorban
Semula jantungmu tersayat hembusan angin,
Sekarang jantungmu merasa perih
Seraya jemari kecilnya mengusap-usap jantungmu
Seolah jantung itu miliknya
Walau mungkin, memang miliknya
Tapi kau terus berkata pada dirimu sendiri
Tak apa
Tak apa
Tak apa kau merintih perih karena belaiannya
Ia mencacimu sesukanya
Umpama kau tembok tak berasa
Berkata kau salah
Berkata kau empunya dia
Berkata kau enyah
Berkata kau datang
Sebegitu kau membencinya
Rupanya kian merubah
Sungging senyum bulan sabit hadir
Sebisamu menyimpan anganmu darinya
Sebisamu menyadari kau harus mulai berjalan pergi
Sebisamu berkata kau tak dalam bayang-bayangnya
Sebisamu membohongi dirimu sendiri
Kau tak kuasa menggerakan kakimu
Kau tak bisa memunggunginya
Matamu tak mampu lepas dari lekukan bibirnya
Kau tak kuasa memalingkan diri
Persetan dengan komitmen
Kau hanya takut sendiri
Kau takut ia tak akan kembali
Kau takut kau tak cukup rupawan
Kau takut tak layak dicintai
Maka kau tetap mencin(tai).
Semua hal ini terjadi karena kau tak dicintai
Rupiahmu tak berbuah barang
Rupiahmu tak berbuah jasa
Rupiahmu dirampas si pencopet
Dan kau tak mengejar untuk mendapatkannya
Kau biarkan ia pergi membawanya
Bodohnya kau
Mencintai seperti menanam pohon mangga
Namun berbuah jeruk.
Kau ambil buahnya, kau tetap memakannya
Seakan berkata kau sudah berusaha merawatnya
Kau akan mencerna apapun yang dhasilkan pohon itu
Meski bukan itu yang kau mau.
Mencintai dan dicintai seperti menanam pohon mangga
Yang juga berbuah mangga
Buahnya kuning, harum, dan begitu besar
Kau mendapatkan apa yang kau harapkan
Apa yang kau nantikan, bahkan lebih
Apa yang kau tanam dan pupuk sejak awal
Tanpa kau mencintai, kau tak akan dicintai.
Tanpa kau mencintai, belum tentu akan dicintai.
Tanpa kau mencintai, mungkin akan dicintai.
Dengan mencintai, tak akan mati.
"Lebih baik merasakan sakit daripada tidak merasakan apa-apa sama sekali," katanya.
Aku berkata demikian, karena aku masih mencintai, belum dicintai.
Dan aku menikmati setiap detik rasa sakit yang mengucur di jantungku
Menghambat aliran darahku
Menyesakkan nafasku
Aku menikmatinya
Karena aku akhirnya merasakan.
Dan pintanya,
"jika aku mengulang waktu mungkin aku enggan bersamamu,"
Aku tersenyum dan tetap mencintai.
Terkadang mengetahui keterusterangan menyakitkan.
Tapi, menoleh dari keterusterangan tidaklah indah.
Tidak indah untuk tinggal didalamnya dan larut dalam arus kemunafikan.
Jatuh cinta, katanya.
Membiarkan ada orang lain yang mencampuri hidupmu.
Waktumu
Rupiahmu
Anganmu
Dan ya, perasaanmu.
Yang kadang terkoyak bagai serigala membunuh mangsanya
Tanpa menimbang pedih raga hewan kecil
Tersobek memperlihatkan jantungnya
Perih tergesek tiupan angin
Begitu pula dengan cintaku.
Terpampang dalam wajahnya jelas
Danau yang kian meluap karena begitu perih terasa.
Waduk kecil disamping danau tak mampu menahan
Air mengalir deras tanpa batas, melintasi tanah sampai ke bibir.
Jatuh cinta sebuah fasa.
Berisi bualan dan omong kosong penuh kotoran.
Bak kuda mengekskresikan sisa makanannya,
Begitu masif
Gabuk;besar tapi tak ada isinya.
Walaupun yang tercipta hanya bau belaka.
Serupa
Meluapkan rasa
Sampai dalam
Terlalu dalam
Bercumbu
Bercinta
Walaupun yang tercipta nantinya hanya keegoisan semata
Sejatinya hal itu menyenangkan,
bertemu seseorang yang bisa membuat jatuh cinta.
Waktu terasa begitu cepat saat kau gandeng mesra tangannya
Saat kau merasakan hangat peluknya
Lalu mengantarmu ke depan pagar rumahmu yang tinggi
Bersembunyi dari kedua orangtuamu
Memang tidak serius.
Dikecupnya keningmu
Mata kalian bertemu dan rupanya perlahan mendekatimu
Melayang terbang tinggi bersama
Lalu kau mengenal yang namanya mencintai.
Pintu itu terbuka dan jatuh cinta membawamu ke dalamnya
Kau jadi mencintai
Mencintai membuatmu lebih banyak lagi berkorban
Semula jantungmu tersayat hembusan angin,
Sekarang jantungmu merasa perih
Seraya jemari kecilnya mengusap-usap jantungmu
Seolah jantung itu miliknya
Walau mungkin, memang miliknya
Tapi kau terus berkata pada dirimu sendiri
Tak apa
Tak apa
Tak apa kau merintih perih karena belaiannya
Ia mencacimu sesukanya
Umpama kau tembok tak berasa
Berkata kau salah
Berkata kau empunya dia
Berkata kau enyah
Berkata kau datang
Sebegitu kau membencinya
Rupanya kian merubah
Sungging senyum bulan sabit hadir
Sebisamu menyimpan anganmu darinya
Sebisamu menyadari kau harus mulai berjalan pergi
Sebisamu berkata kau tak dalam bayang-bayangnya
Sebisamu membohongi dirimu sendiri
Kau tak kuasa menggerakan kakimu
Kau tak bisa memunggunginya
Matamu tak mampu lepas dari lekukan bibirnya
Kau tak kuasa memalingkan diri
Persetan dengan komitmen
Kau hanya takut sendiri
Kau takut ia tak akan kembali
Kau takut kau tak cukup rupawan
Kau takut tak layak dicintai
Maka kau tetap mencin(tai).
Semua hal ini terjadi karena kau tak dicintai
Rupiahmu tak berbuah barang
Rupiahmu tak berbuah jasa
Rupiahmu dirampas si pencopet
Dan kau tak mengejar untuk mendapatkannya
Kau biarkan ia pergi membawanya
Bodohnya kau
Mencintai seperti menanam pohon mangga
Namun berbuah jeruk.
Kau ambil buahnya, kau tetap memakannya
Seakan berkata kau sudah berusaha merawatnya
Kau akan mencerna apapun yang dhasilkan pohon itu
Meski bukan itu yang kau mau.
Mencintai dan dicintai seperti menanam pohon mangga
Yang juga berbuah mangga
Buahnya kuning, harum, dan begitu besar
Kau mendapatkan apa yang kau harapkan
Apa yang kau nantikan, bahkan lebih
Apa yang kau tanam dan pupuk sejak awal
Tanpa kau mencintai, kau tak akan dicintai.
Tanpa kau mencintai, belum tentu akan dicintai.
Tanpa kau mencintai, mungkin akan dicintai.
Dengan mencintai, tak akan mati.
"Lebih baik merasakan sakit daripada tidak merasakan apa-apa sama sekali," katanya.
Aku berkata demikian, karena aku masih mencintai, belum dicintai.
Dan aku menikmati setiap detik rasa sakit yang mengucur di jantungku
Menghambat aliran darahku
Menyesakkan nafasku
Aku menikmatinya
Karena aku akhirnya merasakan.
Dan pintanya,
"jika aku mengulang waktu mungkin aku enggan bersamamu,"
Aku tersenyum dan tetap mencintai.
Komentar